Membahas Syiah

MUQADDIMAH

Semenjak kematian Imam mereka, Syi’ah mengalami perkembangan dan
perpecahan.

Dan semakin jauh perpecahan mereka, semakin banyakpula ajaran dan
paham baru.

Dimana tidak jarang ajaran Syi’ah dalam satu periode bertentangan
dengan ajaranmereka pada periode sebelumnya. Karena setiap Imam
memberikan ajaran, dimana perkataan Imam bagi Syi’ahadalah hadits,
sama dengan sabda RasulullahShallallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wasallam.
Bahkan adayang ber-anggapan bahwa perkataan Imam sama denganfirman
Allah. Namun yang kita bicarakan dalam kapasitas ini adalahkelompok
Syi’ah yang percaya kepada dua belas Imam(Syi’ah Imamiyah Al-Itsna
‘Asyariyah) dan sekte inilah yang masuk dan berkembang di Indonesia.

Namun kemungkinan orang-orang Syi’ah di sekitar anda akan mengingkari
tulisan ini sambil berkata: “Syi’ah tidak seperti ini!” Tetapi tidak
selayaknyalah mereka mengingkari perkataan-perkataan ulama-ulama besar
me-reka, Karena bahan bacaan yang kami gunakan dalampenyusunan risalah
ini menggunakan kitab-kitab pokok Syi’ah yang ditulis oleh ulama-ulama
besar Syi’ah sebagai referensi.

PEMBAHASAN

Abdullah bin Saba’ adalah seorang pendeta Yahudi dari Yaman yang
pura-pura masuk Islam pada akhir kekhalifahan ‘Utsman radiallahu
‘anhu. Dialah orang yang pertama mengisukan bahwa yang berhakmenjadi
khalifah setelah Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam adalah Ali
Shallallahu ‘AlaihiWasallam.Tetapi pada abad ke-14, dimunculkanlah isu
bahwa Abdullah bin Saba’ itu adalah manusia bayangan.

Mungkin didorong oleh rasa tidak enak, karena timbulimajinasi bahwa
ajaran Syi’ah itu berasal dari Yahudi.Tetapi itu merupakan fakta
sejarah yang telah dibakukan,diakui oleh ulama-ulama Syi’ah pada jaman
dahuluhingga sekarang.Sungguh keliru orang yang mengatakan bahwa tidak
adaperbedaan antara Sunni dan Syi’ah, kecuali sebagaimanaperbedaan
yang terjadi antara madzhab yang empat(Hanafi, Maliki, Syafi’i dan
Hambali) dan masalah-masalah furu’iyah ijtihadiyyah!

Ketahuilah bahwa Syi’ah adalah agama di luar Islam.Perbedaan antara
kita kaum Muslimin dengan Syi’ahsebagaimana berbedanya dua agama dari
awal sampaiakhir yang tidak mungkin disatukan, kecuali salahsatunya
meninggalkan agamanya.Agar para pembaca mengetahui bashirah (yakni
hujjahyang kuat dan terang naqliyyun dan aqliyyun) bahwa Syi’ah adalah
dien/agama, maka di bawah ini kamituliskan sebagian dari aqidah Syi’ah
yang tidakseorang Muslim pun meyakini salah satunya melainkan dia
telah keluar dari Islam.

1. Mereka mengatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mengetahui bagian
tertentu sebelum terjadi. Dan merekasifatkan Allah Ta’ala dengan
al-Bada’ yakni AllahSubhanahu wa Ta’ala baru mengetahui sesuatu
setelahterjadi.

2. Tahriful Qur’an (Perubahan Al-Qur’an). Yakni merekamengi’tiqadkan
telah terjadi perubahan besar-besarandi dalam Al-Qur’an. Ayat-ayat dan
surat-suratnya telahdikurangi atau ditambah oleh para shahabat Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di bawah pimpinan tigakhalifah yang
merampas hak ahlul bait, yaitu AbuBakar, ‘Umar dan ‘Utsman radhiallahu
‘anhum ajmain. Salah satu ayat yang dibuang menurut versi Syi’ahadalah
ayat wilayah (kedudukan) yang terdiri daritujuh ayat. Kami tuliskan
ayat ketujuhnya : Danbertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan Ali
termasuk orang-orang yang menjadi saksi.

3. Mereka juga mengatakan bahwa Al-Qur’an yang ada ditangan kaum
Muslimin dari zaman shahabat sampai hariini tidak asli lagi. Kecuali
Al-Qur’an mereka yangtiga kali lebih besar dari Kitabullah yang mereka
namakan mushaf Fatimah yang akan dibawa oleh Imam Mahdi. Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman(yang terjemahannya):

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dansesungguhnya
Kami-lah yang benar-benarmemelihara/menjaganya.” (Al-Hijr:
9).(Al-Qur’an) yang tidak datang padanya kebathilan baikdari depan
maupun belakangnya, yang diturunkan ALLAH Yang Maha Bijaksana (lagi)
Maha Terpuji.”(Fush-shilat : 42).

Alangkah besarnya dusta dan penghinaan mereka terhadap Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan bahwa Al-Qur’an di dalam
pemeliharaan-Nya dan tidak akankemasukan satupun yang bathil dari
segala jurusan.Akan tetapi mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an telah
diubaholeh tangan-tangan manusia, yaitu para shahabat.

4. Mengadakan penyembahan terhadap manusia. Merekabersikap
berlebih-lebihan terhadap imam-imam mereka,sehingga mereka tinggikan
sampai kepada derajatuluhiyyah (ketuhanan). Untuk itu, mereka
telahberbohong atas nama shahabat besar ahlul jannah, Alibin Abi
Thalib bersama istrinya (Fatimah puteri NabiShallallahu ‘Alaihi Wa
Aalihi Wasallam) dan kedua orang anaknya (Hasan dan Hushain) dan
seluruh ahlulbait. Lihatlah kepada sebagian perkataan ulama mereka
tentang Ali bin Abi Thalib yang kata mereka -secara dusta- telah
mengatakan: Demi Allah. Sesungguhnya akulah yang bersama Ibrahimdi
dalam api, dan akulah yang men-jadikan api itudingin dan selamatlah
Ibrahim. Dan aku bersama Nuh didalam bahtera (kapal), dan akulah
yangmenyelamatkannya dari teng-gelam. Dan aku bersama Musa, lalu
akuajarkan ia Taurat. Dan akulah yang membuat Isa dapatberbicara di
waktu masih bayi dan akulah yangmengajarkannya Injil. Dan aku bersama
Yusuf di dalamsumur, lalu aku selamatkan ia dari tipu daya
saudara-saudaranya. Dan aku bersama Sulaiman di atas permadani
(terbang),dan aku-lah yang menundukkan angin untuknya).(Dinukil dari
kitab Syi’ah wa Tahrifu al-Qur’an oleh Syaikh Muhammad Malullah
halaman 17, nukilan darikitab al-Anwaaru an-Nu’maaniyyah (I/31) salah
satu kitab terpenting Syi’ah).

Sekarang lihatlah apa yang dikatakan Khomeini,pemimpin besar agama
Syi’ah di dalam kitabnyaal-Hukuumatu al-Islamiyyah (hal. 52):”Dan
sesungguhnya yang terpenting dari madzhab kami,sesungguhya imam-imam
kami mempunyai kedudukan (maqam)yang tidak bisa dicapai oleh seorang
pun malaikat yangmuqarrab/dekat dan tidak oleh seorangpun Nabi yang
pernah diutus.”Maksudnya, imam-imam mereka itu jauh lebih tinggi
daripara malaikat dan sekalian Nabi yang pernah diutus.

Inilah salah satu penghinaan terbesar Khomeini kepadaseluruh Malaikat
dan para Nabi semuanya (termasuk Jibril dan Muhammad Shallallahu
‘Alaihi Wasallam,berpegang kepada keumuman lafadz yang diucapkan
Khomeini).

Sangat tidak pantas seorang pemuda Ahlus Sunnah mengidolakan orang
seperti ini, bahkansampai memajang posternya di dalam kamarnya.Mereka
pun meriwayatkan secara dusta atas nama Ali:Dan akulah yang
menghidupkan dan memati-kan. (Syi’ahwa Tahrifu al Qur’an, hal 17).

Lihatlah! Bagaimana mereka samakan Ali dengan Namruddan Fir’aun yang
mengaku sebagai tuhan yang menghidupkan dan mematikan.

5. Di antara I’tiqad Syi’ah yang terpenting danmenjadi salah satu asas
agama mereka adalah aqidah raj’ah, yaitu keyakinan hidup kembali di
dunia inisesudah mati, atau kebangkitan orang-orang yang telahmati di
dunia.Peristiwanya terjadi ketika Imam Mahdi mereka bangkitdan bangun
dari tidur panjangnya yang sampai sekarangtelah seribu tahun lebih
(karena selama ini ia bersembunyi di dalam gua).

Kemudian dihidupkanlah kembali seluruh imam mereka dari yang pertama
sampaiyang terakhir tanpa terkecuali Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wa
Aalihi Wasallam dan putri beliau Fatimah. Kemudian dihidupkan kembali
pula musuh-musuh Syi’ahyang terdepan yakni Abu Bakar, Umar dan Utsman
danseluruh shahabat dan seterusnya.

Mereka semua akandiadili, kemudian disiksa di depan Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wa Aalihi Wasallam karena telah mendzalimi ahlul
bait, merampas imamah dan seterusnya.(Lihat kitab mereka, Haqqul
Yaqin, Hal. 347).Agidah Raj’ah ini terang-terangan telah
mendustakanisi Al-Qur’an diantaranya firman ALLAH Subhanahu waTa’ala
(yang terjemahannya):”Dan di hadapan mereka (orang-orang yang telah
mati)ada alam kubur sampai hari mereka dibangkitkan (yaknihari
kiamat).”Ayat yang mulia ini menegaskan bahwa orang yang telahmati
akan hidup di alam barzakh (alam kubur) dan tidakakan hidup lagi di
dunia sampai mereka dibangkitkannanti pada hari kiamat.

6. Pengkafiran kepada seluruh shahabat RasulullahShallallahu ‘Alaihi
Wa Aalihi Wasallam, kecualibeberapa orang seperti Ali, Fatimah, Hasan
dan Hushain dan..Mereka merendahkan para shahabatdengan caci maki dan
laknat dalam melawan firman AllahSubhanahu wa Ta’ala yang banyak
memuji para shahabatdi antaranya keridhaan Allah kepada mereka
radhiallau ‘anhum ajmain.

7. Taqiyyah. Berkata Mufid dalam kitabnya Tashhiihal-I’tiqaad,
menerangkan pengertian taqiyah dikalanganSyi’ah:”Taqiyah adalah
menyembunyikan kebenaran dan menutupikeyakinannya, serta
menyem-bunyikannya dariorang-orang yang berbeda dengan mereka dan
tidakmenampakkannya kepada orang lain karena dikhawatirkanakan
berbahaya terhadap aqidah dan dunianya.”Ringkasnya, taqiyah adalah
berdusta untuk menjagarahasia. Hakekat Syi’ah memang terka-dang
sulitdiketahui para pengikutnya sendiri.

Itu semua dikarenakan aqidah taqiyah dan kitman (sikap menjagarahasia)
yang ada pada mereka. Bahkan terkadang mereka berpenampilan
seolah-olahmencintai Ahlus Sunnah, sehingga semua ini
menjadikanorang-orang yang polos di kalangan Ahlus Sunnahtertipu dan
terpedaya oleh mereka.Syi’ah mensyari’atkan dusta yang merupakan
aqidah yangharus dipercayai dan bahkan masuk dalam rukun
iman,sebagaimana disebut-kan dalam kitab mereka:”Kulani menukil dari
Abdullah, ia berkata: Taq-walahatas agamamu dan berhijablah dengan
“taqiyah”, makasesungguhnya tidak sempurna iman seseorang apabilatidak
berdusta (taqiyah). (Ushulul Kaafi hal. 483. Al Kaafi merupakan salah
satukitab pegangan pokok mereka dalam hal aqidah dan agamaSyi’ah
Imamiah).Kulaini mengatakan dari Abdullah ia berkata: AdalahBapakku
mengatakan: “Dan apakah yang dapat menenangkan pikiranku
selainberdusta (taqiyah).Sesungguhnya taqiyah adalah surga bagi orang
yangberiman.” (Ushul Al-Kaafi hal.484).

Jagalah agama kalian dan lindungilah dengan taqiyah,sesungguhnya tidak
beriman bagi siapa yang tidakbertaqiyah. (Al Kulani dalam Ushul
Al-Kafi, I/218).Rafidhah (Syi’ah) memandang wajibnya mengguna
kantaqiyah terhadap kaum Muslimin. Dengan taqiyah, seakanmereka
menunjukkan iltizam-nya tehadap hukum Islam. Saling meno-long dengan
dasar cinta dan kasih sayang dengan kaum Muslimin. Padahal
kenyataannya mereka berlepas diri dari kaum Muslimin.Mere-ka
menganggap bahwa Ahlus Sunnah lebih kafir daripada orang-orang Yahudi,
Majusi dan Musyrik.Mereka juga memandang bahwa mereka tidak
mungkinbertemu dengan kaum Muslimin dalam masalah agama.

Seperti yang dijelaskan oleh Ni’matullah al-Jazairi, ia berkata:
“Sesungguhnya kita tidak bertemu dengan mereka atassatu ilah
(sembahan), tidak pula atas satu nabi dan tidak pula atas satu imam.
Yang demikian itu karenamereka mengatakan bahwasanya Tuhan mereka
adalah yangmengutus Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai
nabinya dan mengangkat Abu Bakar sebagai khalifahnya.

Sedangkan kami tidak mengatakan dengan Tuhan yangdemikian itu dan
tidak pula dengan nabinya. Akantetapi yang kami katakan bahwa Tuhan
yang mengangkatAbu Bakar bukanlah Tuhan kita, tidak pula nabitersebut
adalah nabi kita.”(Ash-Shirath al-Mustaqim Ila Mustahqi
at-Taqdim,III/73).Oleh karena itu mereka menyelisihi kaum Muslimin
dalam segala perkaranya.

Menjadikan hal demikian sebagai prinsip mereka yang paling penting,
dan mereka membangun agamanya atasprinsip tersebut. Seperti yang
diriwayatkan oleh ash-Shadiq dari Ali bin Absath, ia berkata: “Aku
berkata kepada Radha ‘Alaihissalaam : ‘Aku memiliki masalah, tetapi
aku tidak memperolehpemecahannya. Sedang di negeri tersebut
tidakseseorang pun ulama kita (Syi’ah). Radha menjawab: ‘Datanglah
kepada ahli fiqh yang ada di negeri itu,lalu mintalah fatwa berkenaan
dengan masalahmu. Tapi ambillah kebalikannya. Karena, kebenaran itu
ada padakebalikan (pernyataan fatwa) tersebut.” (Dikutip dari kitab
mereka Al-Anwar An-Nu’maniyah II/278).Menurut Khomeini, imannya orang
Syi’ah tidak sempurnakecuali bila ia telah berbeda dengan Ahlus Sunnah
walJama’ah (Al-Hukumat al-Islamiyyah hal. 83).

Berkata Ash-Shadiq; “Ayahku berkata dalam suratnya:’Janganlah engkau
bermakmum shalat kecuali pada duamacam orang. Pertama orang yang
engkau percayai agamadan kewaraannya. Kedua, orang yang engkau
khawatirkan pedang, kekerasan, dan kekejiannya terhadapagama-(mu).
Shalatlah di belakangnya dengan carataqiyah dan berpura-pura.”
(Dikutip dari kitab mereka Man laa yahdhuruhual-Faqiih, I/265).

Syaikh mereka Majlisi meriwayatkan dari Abi Abdillah,bahwasanya ia
pernah berkata: …….

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallambersabda:”Diperintahkan
supaya bertaqiyah…..” (Kitab Syi’ah, Bihar al-Anwar,XXIV/47)

Inilah kepalsuan yang sangat besar terhadap kedudukan Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan terhadap keluarga-nya dan
kerabatnya. Seandainya kita menerima bahwa ahlul bait takutterhadap
para penguasa, maka siapakah yang ditakutioleh Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wasallam dan kepada siapakah beliau pernah bertaqiyah?
Padahalbeliaulah yang tegak menentang kaum kafir Quraisy danpara
pembesarnya. Beliau hadapi mereka, beliauselisihi agamanya serta
beliau seru mereka untukberibadah kepada Allah semata. Jadi mengaitkan
taqiyah kepadaNabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan keluarganya
merupakan dusta yang sangat besar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: