Nahjul Balaghoh

Tulisan berikut ini akan melumpuhkan penghinaan Syi`ah terhadap sahabat Rasulullah shalallahu `alaih wasallam dengan kitab mereka sendiri:

Nahjul Balagghoh., Cetakan Dar-Al-Kitab-Beirut 1387H
Tahqiq:Shubhi Shalih.

Inilah Ali Radhiyallahu `anhu, beliau mencaci dan menjelekkan Syi`ah dan memuji para sahabat Rasulullah.Beliau berkata pada hal 143:

“Sungguh saya telah melihat para sahabat Muhammad , tidak satupun diantara mereka yang mirip dengan kamu!Mereka dipagi hari rambutnya kusut dan wajahnya penuh debu, karena semalaman telah sujud dan ruku`, dengan bergantian antara dahi dan pipi mereka, mereka berdiri seakan-akan diatas bara api karena mengingat hari kebangkitan mereka! Sepertinya diantara mata mereka ada guratan-guratan keteduhan (kekhusuan) karena lamanya sujud! Jika disebut nama Allah berderailah air mata merekahingga membasahi dada mereka, mereka menunduk bagaikan pohon yang diterpa angina yang kencang, itu semua karena takut adzab dan mengharapkan pahala”


Begitulah Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib memuji sahabat Rasulullah dengan sanjungan yang sangat indah. Sementara itu Ali mencelasyi`ahnya (pendukungnya) dengan celaan yang sangat buruk, setelah sekali lagimemuji sahabat Rasulullah .Ia berkata pada hal 91,92 , masih di Nahjul Balaghoh:”Sungguh kita bersama-sama Rasulullah SAW , dibunuh anak-anak kami,cucu-cucu kami, saudara –saudara dan paman-paman kami. Hal itu tidak membuat kami melainkan semakin menambah iman dan kepasrahan.Kita melewati jalan yang jelas, sabar diatas kepahitan dan kepedihan dalam jihad melawan musuh. Adalah perang tanding antara seorang dari kita dan seorang dari musuh, keduannya bertanding bagaikan dua hewan jantan yang tangguh,terkadang dari kita yang jatuh terkadang dari musuh, maka tatkala Allah melihat kesungguhan dan kejujuran kita,Allah menurunkan kekalahn dipihak musuh dan kemenangan dipihak kami, hingga Islam menjadi kokoh dan mantap kuat menancap.Demi Allah, seandainya kita melakukan seperti apa yang kalian lakukan , tentu tiang agama ini tidak pernah akan tegak dan batang iman tidak akan menghijau.Demi Allah kalian akan memerah darah dan mengakhiri dengan penyesalan”Ini adalah bunyi kitab mereka sendiri! Ya Allah saksikanlah!Ali Radhiallahu `anhu menambahkan kesedihannya atas kepergian sahabat pada halaman 177,178:” Manakah kaum yang diajak kepada Islam lalu menerimanya, yang membaca Al-Qur`an dan merincinya, yang diseru kepada perang lalu berhamburan maju sambil menghunus pedang, mengambil ujung-ujung bumi dengan menyerbu dan merapatkan barisan, sebagian gugur dan sebagian selamat. Mereka tidak merasa gembira dengan yang hidup dan tidak bersedih dengan yang mati,terkadang mereka pucat karena tidak tidur malam, diatas wajah mereka ada debu-debu orang yang khusu`. Mereka itulah saudara-saudaraku yang telah pergi. Sungguh pantas merindukan mereka dan menggigit jari atas kepergiannya”Ali menyebut kemuliaan yang telah dianugerahkan Allah kepada mereka pada hal.383:”Ketahuilah wahai hamba-hamba Allah bahwa orang-orang yang bertakwa telah pergi membawa dunia yang fana dan akhirat yang abadi. Mereka menyertai ahli dunia dalam dunia mereka, tetapi tidak menyertai mereka dalam upah mereka. Mereka telah tinggal didunia sebaik-baik (tingkah laku) yang dikenal dunia, dan memakan dari dunia dengan sebaik-baik (sikap) yang dikenal duniaMereka telah mendapatkan dunia sebagaimana yang didapatkan oleh orang-orang mewah dan mengambil dari padanya apa yang diambil oleh penguasa yang sombong, kemudian mereka berpaling dari dunia, cukup dengan bekal yang mengantarkan ke akhirat, dan dengan perniagaan yang menguntungkan. Mereka merasakan lezatnya zuhud didunia dan meyakini bahwa mereka akan berdekatan dengan Allah besok di akhirat, tidak ditolak doa mereka dan tidak dikurangi sedikitpun kelezatan dari mereka”Ali memuji kaum Muhajirin dalam jawabannya kepada Muawiyah bin Abi Sufyan:” Sungguh beruntung `Ahlu as-sabq` (orang-orang Islam terdahulu) dengan kedahuluannya (masuk islam) dan kaum Muhajirin yang pertama telah membawa keutamaan mereka”Sekalipun ada konflik dengan Muawiyah, Ali –mudah2an Allah meridhoinya—

TIDAK MENGKAFIRKANNYA.
Hal ini ia tulis dalam surat-suratnya yang ia kirim keberbagai daerah dalam rangka menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di”Shiffin”. Surat ini diriwayatkan oleh Imam Syi`ah Muhammad Ar-Ridha dalam Nahjul Balaghoh hal 488. Ali menulis untuk mereka :”Awalnya kita bertemu dengan kelompok dari penduduk Syam, yang nampaknya memang Rabb kita satu dan dakwah kita satu.Kita tidak menambahi (melebihi) mereka dalam iman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya, mereka juga tidak melebihi kita. Semuanya sama kecuali apa yang kita perselisihakan tentang darah Ustman radhiallahu `anhu, dan kita bersih daripadanya.”Ali pun telah mengingkari orang-orang yang yang mencela Mu`awiyah dan bala tentaranya. Ar-Ridha meriwayatkan dari Ali, dia berkata (hal 323):”Sesungguhnya aku membenci untuk kalian jika kalian menjadi para pencela akan tetapi jika kalian mensifati amal-amal mereka dan menyebut kondisi mereka, maka hal itu lebih tepat dalam ucapan dan lebih mengena dalam memberikan alasan, dan kalian (hendaknya)mengganti celaan terhadap mereka dengan do`a”Ya Allah lindungilah darah kami dan darah mereka dan perbaikilah hubungan di antara kami dan mereka”

Sumber:Gen Syiah,Asy Syaikh Mamduh Farhan Al Buhairi

~ by arrasya on March 6, 2007.

 
%d bloggers like this: