APA AQIDAH RAJ’AH YANG DIIMANI OLEH ORANG RAFIDHAH ?

Disusun oleh
Abdullah bin Muhammad As Salafi.

Orang Rafidhah telah membuat bid’ah raj’ah, berkata Al Mufid : “Telah sepakat mazhab imamiyah atas wajibnya terjadi raj’ah di kebanyakan dari para orang yang telah mati” [1]. Yaitu (yang mereka maksudkan dengan raj’ah ini) bangkitnya penutup imam-imam mereka, yang bernama Al Qaaim pada akhir zaman, ia keluar dari bangunan di bawah tanah, lalu menyembelih seluruh musuh-musuh politiknya, dan mengembalikan kepada syiah hak-hak mereka yang dirampas oleh kelompok-kelompok lain sepanjang masa (yang telah berlalu) [2].

Berkata sayid Al Murtadho di dalam kitabnya “Al Masail An Nashiriyah” : “Sesungguhnya Abu Bakr dan Umar disalib pada saat itu di atas suatu pohon di zaman Al Mahdi –yakni imam mereka yang kedua belas- yang mereka beri nama Qaaim Ali Muhammad (penegak keluarga Muhammad), dan pohon itu pertamanya basah sebelum penyaliban, lalu menjadi kering setelahnya[3].

Berkata Al Majlisi di dalam Kitab “Haqul Yakin” dari Muhammad Al Baqir (berkata) : “Jika Al Mahdi telah keluar, maka sesungguhnya ia akan menghidupkan ‘Aisyah Ummul Mukminin dan ia melaksanakan (menjatuhkan) hukum had (hudud) atas diri Aisyah”. [4]

Kemudian bagi mereka pemahaman raj’ah ini berkembang, dan mengatakan (berlakunya) raj’ah (kembali hidup) seluruh orang syiah dan imam-imam mereka dan seluruh musuh mereka bersama imam-imam mereka. Aqidah khurafat ini mengungkapkan rasa dengki yang tersembunyi di dalam diri mereka, yang mereka mengungkapkan rasa dengki itu dengan cerita dongeng seperti ini. Dan adalah keyakinan ini merupakan sarana (jembatan) yang diambil oleh orang-orang Sabaiyah untuk mengingkari hari akhirat.

APA AQIDAH TAQIYAH MENURUT ORANG RAFIDHAH ?
Taqiyah didefinisikan oleh salah seorang ulama mereka zaman sekarang dengan ucapannya : “Taqiyah yaitu kamu mengatakan atau melakukan (sesuatu), berlainan dengan apa yang kamu yakini[5]; untuk menolak bahaya dari dirimu atau hartamu atau untuk menjaga kehormatanmu” [6]. Bahkan mereka mendakwakan bawah sesungguhnya Rasulullah telah melakukannya (Taqiyah) tatkala Abdullah bin Ubai bin Salul kepala orang-orang munafik meninggal, dimana beliau datang untuk menyolatkannya, lalu Umar berkata kepadanya : Tidakkah Allah telah melarangmu dari hal itu? –yakni berdiri di atas kuburan munafik ini-, lalu Rasulullah menjawabnya : “Celaka kamu, kamu tidak tahu apa yang saya ucapkan : sesungguhnya saya mengucapkan : Ya Allah isilah perutnya dengan api, dan penuhilah kuburannya dengan api dan selalulah api membakar dirinya ”. [7]

Lihatlah wahai saudaraku muslim, bagaimana mereka telah menyandarkan kepada diri Rasulullah kedustaan. Apakah masuk akal, bahwa para sahabat Rasulullah mendoakan rahmat untuknya (Abdullah bin Ubai), sedangkan Nabi rahmat melaknatnya?

Al Kulaini menukilkan di usul Kafi : “ Berkata Abu Abdillah: “wahai Abu Umar sesungguhnya sembilan per sepuluh (sembilan puluh persen) agama ini terletak pada (akidah) taqiyah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan taqiyah, taqiyah ada pada setiap sesuatu kecuali di nabidz (korma yang direndam dalam air untuk membuat arak) dan di dalam menyapu atas khuuf (kaus atau kulit kulit).” Dan dinukilnya juga dari Abi Abdillah ia berkata : “Jagalah agama kalian dan tutuplah agama itu dengan taqiyah, karena tidak ada iman bagi orang yang tidak mempunyai taqiyah.” [8]

Maka orang Rafidhah memandang taqiyah itu adalah fardu (wajib), tidak akan berdiri mazhab ini kecuali dengan taqiyah, dan mereka menerima pokok-pokok mazhab secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Mereka selalu melaksanakannya taqiyah itu terlebih-lebih, bila konsisi yang sulit telah mengepung mereka, maka hati-hatilah dari orang Rafidhah wahai kaum muslimin.

[Disalin dari kitab Diantara Aqidah Syi'ah, Disusun oleh Abdullah bin Muhammad As Salafi, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc.]
_________
Foote Note
[1] Awaailul Maqaalaat, oleh Al Mufiid, Hal : 51.
[2] Al Khuthuthul ‘Ariidhah, oleh Muhibbudin Al Khatiib, hal : 80.
[3] Awaailul Maqaalaat, oleh syeikh mereka yang bergelar Al Mufiid, Hal : 95.
[4] Haqul Yakiin, oleh Muhammad Al Baqir Al Majlisi, hal : 347.
[5] Inilah hakikat kemunafikan, yaitu menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dibatin, atau menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekafiran. Dengan kata lain, takiyah / nifak itu adalah lain di mulut lain di hati. Itulah akidah orang syiah, maka hati-hatilah dari tipu muslihat mereka, (pent).
[6] As Syi’ah fil Mizaan, oleh Muhammad Jawaad Mughniyah, hal : 48.
[7] Furuu’ul Kafii, kitab AL Janaaiz, hal : 188.
[8] Usuulul Kafii, hal : 482-483.

sumber : http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=467&bagian=0

About these ads

~ by arrasya on February 24, 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: